Categories
Business

Kasus Dugaan Ijazah Palsu, Jokowi Tutup Pintu Maaf Untuk Roy Suryo Cs!

JAKARTA – Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) menutup pintu maaf bagi Roy Suryo Rismon Sianipar dan Tifauzia Tyassuma alias Dr Tifa (RRT).  Diketahui, ketiganya telah ditetapkan tersangka di Polda Metro Jaya.

Hal ini disampaikan Ketua Kami Jokowi, Razman Arif dalam Program Rakyat Bersuara iNews TV, bertajuk ‘Jokowi: Kasus Saya Buktikan di Pengadilan’, Selasa (3/1/2026).

“Saya juga koordinasi tadi siang bahwa untuk Roy Suryo, Rizman, dan Tifa (RRT), itu sudah tidak ada pintu maaf, Clear. Jadi Pak Jokowi sudah bersikap untuk RRT, close pintu maaf,” kata Razman.

Razman mengaku sikap dari Jokowi itu didapatkan dari seseorang yang setiap hari bersama mantan presiden tersebut. Pernyataan dari Jokowi tersebut menurutnya, juga diketahui oleh kuasa hukumnya, Rivai Kusumanegara.

“Itu sikap yang jelas dari Solo. Sudah lah tidak usah kita tanya. Adinda Rivai pasti tahulah, orang yang tiap hari dengan Pak Jokowi, jelas ya,” kata Razman.

Dia menegaskan, bahwa selama proses tudingan ijazah palsu ini berjalan, Jokowi tidak sepenuhnya menunggu RRT datang meminta maaf kepadanya. Jokowi memilih diam karena prihatin dengan apa yang dilakukan Roy Suryo Cs.

“Jadi jangan dikira selama ini Pak Jokowi masih menunggu-nunggu (maaf dari RRT), tidak. Dia cuma prihatin, masih melihat niat baik, tapi Mas Roy dan kawan-kawan ternyata tidak (meminta maaf) dan terus-menerus. Sehingga diambil sikap, tidak,” ucapnya.

Razman kembali menegaskan, bahwa pintu maaf itu hanya ditutup bagi RRT, tak berlaku bagi tersangka lain. Jokowi menurutnya masih terbuka untuk memaafkan Kurnia Tri Rohyani, Muhammad Rizal Fadillah dan Rustam Effendi.

“Adapun yang tiga lagi, silakan. Karena itu tidak menjadi sesuatu yang membuat Pak Jokowi khawatir dengan masalah ini, sama sekali tidak ada,” pungkasnya.

Sekadar informasi, dalam kasus dugaan fitnah ijazah palsu Jokowi, Polda Metro Jaya membagi dalam dua klaster.

Pertama terdiri dari lima tersangka, yakni Eggi Sudjana, Kurnia Tri Rohyani, Damai Hari Lubis, Rustam Effendi, dan Muhammad Rizal Fadillah. Dalam klaster ini, Damai Hari Lubis dan Eggi Sudjana sudah tidak lagi berstatus tersangka karena menempuh jalur restorative justice.

Sementara, klaster kedua terdiri dari Roy Suryo, Rismon Hasiholan Sianipar, serta Tifauziah Tyassuma alias dr Tifa.

Categories
Business

Dolar AS Melemah ke Level Terendah 4 Tahun

Jakarta, 3 Februari 2026 —
Nilai tukar mata uang Dolar Amerika Serikat (USD) secara global belakangan ini mengalami tekanan tajam dan tercatat turun ke level terendah dalam empat tahun terakhir. Penurunan ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar keuangan dunia karena mencerminkan penurunan kepercayaan terhadap USD sebagai mata uang andalan global.

Indeks Dolar (DXY) Terjun Bebas

Indeks Dolar AS—yang mengukur kekuatan USD terhadap sekeranjang enam mata uang utama dunia—jatuh ke sekitar 95,5‑96,2 dalam beberapa sesi terakhir. Angka ini adalah level terendah sejak awal 2022, atau sekitar empat tahun terakhir, setelah dolar mengalami penurunan lebih dari 10% dalam beberapa bulan terakhir.

Analis mencatat bahwa tren pelemahan ini menandai penurunan momentum dolar yang signifikan, dan meskipun Federal Reserve AS (The Fed) tidak langsung memangkas suku bunga, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter tetap kuat, yang turut menekan permintaan terhadap USD.

Komentar dari Presiden AS

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turut memberikan komentar terkait kondisi ini. Ia menyatakan bahwa ia tidak khawatir dengan pelemahan dolar dan bahkan menyebut nilai USD masih “bagus” meskipun mencapai titik rendah, sambil menekankan potensi keuntungan ekonomi dari ekspor AS jika dolar tetap lemah.

Namun, sikap ini juga menimbulkan reaksi pasar karena dianggap sebagai indikasi ketidakpastian kebijakan ekonomi dan fiskal dalam negeri AS, yang kemudian ikut memengaruhi sentimen investor terhadap mata uang negara tersebut.

Dampak di Pasar Global

Pelemahan dolar AS tidak terjadi sendiri. Beberapa mata uang utama lainnya justru menguat terhadap USD, misalnya:

  • Euro naik dan menembus level tertinggi terhadap dolar dalam beberapa tahun.
  • Yen Jepang dan British Pound (sterling) menunjukkan penguatan terhadap greenback di pasar global.

Penguatan mata uang pesaing ini mencerminkan pergeseran kepercayaan pasar dari dolar ke aset atau valuta lain, terutama ketika kebijakan dan kondisi ekonomi AS terlihat kurang stabil.

Reaksi Pasar dan Investor

Investor global merespons tren ini dengan beberapa strategi:

  • Mengalihkan modal ke aset safe‑haven lain seperti emas dan logam mulia.
  • Menilai ulang portofolio mereka karena ketidakpastian di pasar FX global.
  • Beberapa analis memperkirakan jika pelemahan berlanjut, efeknya bisa memicu volatilitas lebih luas termasuk pada pasar obligasi AS.

Kesimpulan

💡 Secara keseluruhan, penurunan dolar AS ke level terendah dalam empat tahun mencerminkan kombinasi faktor ekonomi dan geopolitik, termasuk:

  • tekanan kebijakan di dalam negeri AS,
  • ekspektasi pasar tentang suku bunga,
  • serta pergeseran kepercayaan investor terhadap aset global.

Fenomena ini berdampak besar pada pasar keuangan global dan menjadi salah satu berita ekonomi yang paling disorot oleh analis serta pelaku pasar saat ini.