
Jakarta, 3 Februari 2026 —
Nilai tukar mata uang Dolar Amerika Serikat (USD) secara global belakangan ini mengalami tekanan tajam dan tercatat turun ke level terendah dalam empat tahun terakhir. Penurunan ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar keuangan dunia karena mencerminkan penurunan kepercayaan terhadap USD sebagai mata uang andalan global.
Indeks Dolar (DXY) Terjun Bebas
Indeks Dolar AS—yang mengukur kekuatan USD terhadap sekeranjang enam mata uang utama dunia—jatuh ke sekitar 95,5‑96,2 dalam beberapa sesi terakhir. Angka ini adalah level terendah sejak awal 2022, atau sekitar empat tahun terakhir, setelah dolar mengalami penurunan lebih dari 10% dalam beberapa bulan terakhir.
Analis mencatat bahwa tren pelemahan ini menandai penurunan momentum dolar yang signifikan, dan meskipun Federal Reserve AS (The Fed) tidak langsung memangkas suku bunga, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter tetap kuat, yang turut menekan permintaan terhadap USD.
Komentar dari Presiden AS
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turut memberikan komentar terkait kondisi ini. Ia menyatakan bahwa ia tidak khawatir dengan pelemahan dolar dan bahkan menyebut nilai USD masih “bagus” meskipun mencapai titik rendah, sambil menekankan potensi keuntungan ekonomi dari ekspor AS jika dolar tetap lemah.
Namun, sikap ini juga menimbulkan reaksi pasar karena dianggap sebagai indikasi ketidakpastian kebijakan ekonomi dan fiskal dalam negeri AS, yang kemudian ikut memengaruhi sentimen investor terhadap mata uang negara tersebut.
Dampak di Pasar Global
Pelemahan dolar AS tidak terjadi sendiri. Beberapa mata uang utama lainnya justru menguat terhadap USD, misalnya:
- Euro naik dan menembus level tertinggi terhadap dolar dalam beberapa tahun.
- Yen Jepang dan British Pound (sterling) menunjukkan penguatan terhadap greenback di pasar global.
Penguatan mata uang pesaing ini mencerminkan pergeseran kepercayaan pasar dari dolar ke aset atau valuta lain, terutama ketika kebijakan dan kondisi ekonomi AS terlihat kurang stabil.
Reaksi Pasar dan Investor
Investor global merespons tren ini dengan beberapa strategi:
- Mengalihkan modal ke aset safe‑haven lain seperti emas dan logam mulia.
- Menilai ulang portofolio mereka karena ketidakpastian di pasar FX global.
- Beberapa analis memperkirakan jika pelemahan berlanjut, efeknya bisa memicu volatilitas lebih luas termasuk pada pasar obligasi AS.
Kesimpulan
💡 Secara keseluruhan, penurunan dolar AS ke level terendah dalam empat tahun mencerminkan kombinasi faktor ekonomi dan geopolitik, termasuk:
- tekanan kebijakan di dalam negeri AS,
- ekspektasi pasar tentang suku bunga,
- serta pergeseran kepercayaan investor terhadap aset global.
Fenomena ini berdampak besar pada pasar keuangan global dan menjadi salah satu berita ekonomi yang paling disorot oleh analis serta pelaku pasar saat ini.